Bali memang kaya budaya, terutama tentang cerita rakyat (legenda, dongeng, dan mite). Semua itu harus diwariskan kepada generasi muda yang akan meneruskan pembangunan bangsa. Sebuah cerita rakyat perlahan-lahan akan sirna jika tidak dilestarikan. Untuk itu, penulis berharap keberadaan cerita ini dapat bermanfaat sebagai pelepas dahaga di kemarau panjang ini.
“Tuing Tuing dan Pancing Emas” bercerita tentang rajaraja yang adil dan bijaksana. Selain itu, “Tuing Tuing dan Pancing Emas” juga menceritakan anak yang bertanggung jawab dan patuh kepada orang tuanya. Oleh karena itu, cerita “Tuing Tuing dan Pancing Emas” perlu diperkenalkan kepada anak-anak karena mengandung nilai-nilai moral dan ajaran kehidupan yang pantas diteladani.
Kampungku terletak di pedalaman Sumatera Barat. Masyarakat Sumatera Barat bersuku Minangkabau dan masih menjalankan adat istiadat dan tradisinya. Gotong royong dan mengambil kayu di bukit merupakan salah satu tradisi yang masih dilakukan di Sumatera Barat. Buku ini berkisah tentang usaha menghadirkan kembali sebuah tradisi yang hilang. Buku ini juga berupaya untuk menyampaikan nilai-nilai keber…
Cerita ini mengisahkan tokoh Tong Gendut. Ia digambarkan sebagai orang yang rendah hati, baik, dan sopan. Sebagai seorang anak Betawi, ia selalu bersikap sopan, rendah hati, suka menolong, dan menghargai orang. Sifat, tingkah laku, dan karakter tokoh Tong Gendut patut ditiru dan diteladani.
Buku Tombak Si Bagas Marhusor mengisahkan Raja Parsahala Sotarihuthon yang telah terhindar dari musibah. Dia terhindar dari musibah karena pertolongan Si Bagas Marhusor. Setelah sang raja sadar akan musibah yang dialami, pesta ucapan terima kasih diadakan. Saat pesta itu, disampaikan terima kasih kepada para undangan dan orang yang berusaha menolongnya. Dalam cerita ini, ditekankan bahwa siapa …
Cerita Tomanurun yang ditulis oleh Dewi Khairiah ini berasal dari sastra lisan Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Cerita ini mengisahkan Polo Padang yang melanggar sumpahnya sendiri. Dulu sebelum menikahi Putri Bungsu dari negeri kayangan, Polo Padang berjanji tidak akan pernah berkata kasar kepada istrinya. Akan tetapi, janji itu tanpa sengaja dilanggar Polo Padang. Akibatnya, Putri Bungsu dan put…
Buku ini akan menampilkan beragam karakter tokoh yang berada di balik peristiwa besar dalam sejarah Indonesia. Ada Tuanku Koto Tuo yang lembut hati, Tuanku Nan Renceh yang cerdas namun teguh dalam pendirian, serta Tuanku Imam Bonjol yang lihai mengatur strategi perang. Gerakan Padri melahirkan ratusan tokoh. Semuanya memiliki peran penting serta keterkaitan satu sama lain, baik dalam po…
Kisah asal usul Desa Talondo ini diberi judul Tobara dari Bone Talondo. Di dalamnya terkandung ajaran moral, yakni rajin dan tolong-menolong atau saling membantu yang ditunjukkan oleh para Tobara. Selain itu, mereka selalu sabar dan semangat.
Tim ADA Jejak terdiri atas tiga orang remaja yang bersahabat sejak kecil. Kata ADA merupakan singkatan dari ketiga nama mereka, yaitu Andri, Dian, dan Agus. Adapun kata jejak merupakan sifat mereka yang menyukai pencarian jejak tempat-tempat bersejarah. Mereka gemar sekali berpetualang mencari tempat sejarah yang ada ceritanya, apalagi ceritanya melegenda. Kali ini mereka penasaran dengan legen…
Tigo Jangko merupakan nama desa di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. buku ini menceritakan tentang tokoh fiktif bernama Masri (Jutuli) yang hidup pada masa sebelum dan setelah kemerdekaan. Pada sekitar tahun 2000 Desa Tigo Jangko sudah sangat maju dan berkembang. Semua itu karena keberadaan bisnis peternakan ayam petelur.
Cerita yang berjudul Tiga Sekawan dan Possalia ini semula berjudul “Tatalu Topovega Rapa (Tiga Sahabat Karib)”. Cerita ini merupakan salah satu naskah cerita rakyat Kaili yang ada di Sulawesi Tengah. Cerita rakyat ini telah didokumentasikan oleh Herawati (2005) melalui penelitian yang berjudul “Citra Manusia dalam Cerita Rakyat Kaili”, tetapi belum diterbitkan dalam bentuk buku. Penulis…
The story of The Upright Canon is oral literature originating from the Dabo Singkep area, Riau Islands. Actually, this folklore has several versions, but the author chooses one version that the reader can take moral lessons from. The Upright Canon story is full of noble values that need to be planted in our society’s mind. From this story, we can learn that in any condition as great as we are…
This folklore "Prince Purbaya and The Giant Genie Sepanjang" was provided in the context of conducting activities to foster reading and writing culture related to the School Literacy Movement held by the Ministry of Education and Culture in 2015. The activity was the implementation of Minister of Education and Culture Regulation Number 23 Year 2015 concerning Growth of Character. The movement, …
Once upon a time, in the region of Mangiran, or Mangiran Village, there lived a figure named Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Ki Ageng Mangir Wonoboyo possessed a knife. It was simplyshaped, not too big, and had the appearance of a kitchen knife. Nevertheless, the inside of the knife contained an extraordinary power.
Tracing the origin of island naming is an interesting and compelling matter for the reader to know the history / origin of an area's occurrence. Moreover, the Riau Islands region is surrounded by islands which mostly do not have names yet. Aside from being an inspiration for those involved in naming an island, stories that tell about human nature that are basically full of kindness on the one h…
As a tourism place, Maninjau Lake is well known to many people. Its beauty is famous, not only domestically, but also abroad. It is said that the lake located in Tanjungraya District, Agam Regency, West Sumatra Province was once a volcanic crater. Tinjau Mountain was the name. The mountain was adjacent to two other mountains, namely Mount Merapi and Mount Singgalang. The Mount Tinjau peak does…
On this occasion, the author would like to express his deepest gratitude to the Head of the Center for the Development and Cultivation Agency of the Ministry of Education and Culture who gave the opportunity to the author to take up the story from the Tanah Laut District, South Kalimantan.
The story is about the king's son named Indra Maulana who was not liked by his father. He is a powerful and sakti child, but his parents were not aware of his condition. Several times Indra Maulana attempted to be killed, yet remain alive. Finally, Indra Maulana was assigned to look for Pujenggi Flowers.